bisnis waralaba

Another excellent Edublogs.org weblog

Mencermati Titik Kritis Bisnis Franchise « kala mengepal

Novembro 4th, 2009 · Neniu komento
Uncategorized




Melongok Bisnis Franchise bersama Branch Franchise Manager Alfamart Deden Hendra Shakti dan dosen manajemen IPB Ir Budi Purwanto, ME, kami mengupas bisnis franchise dari dua sisi. Mas Deden dari sisi pelaku bisnis ritel, sedangkan saya dari sisi penulis dan penerbit yang melandaskan paparan pada aneka jenis bisnis franchise yang ada di masyarakat. Kepada para manajer itu saya ingatkan-karena saya yakin mereka sudah tahu- tentang kompleksnya peta bisnis saat ini; betapa gaya bisnis juga banyak mengalami perubahan seiring akselerasi informasi yang berhamburan berkat kemajuan teknologi informasi.

bank berpengalaman, mampukah mengatisipasi zaman?
Dalam situasi seperti, menurut hemat saya, bisnis mesti menyesuaikan diri sebagai entitas yang multidimensional. Tidak cukup lagi menancapkan bring insist upon to bear on di benak konsumen sebagai bank tabungan, misalnya. Positioning bank perlu dirumuskan ulang.

Mengapa? Karena, kebanyakan bank bermain di situ. Lihat saja fitur-fitur yang ditawarkan bank. Relatif tidak ada perbedaan yang berarti satu sama lain. Umumnya program mereka mirip satu sama lain. Akibatnya, di benak konsumen play on words sulit membedakan mana bank yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter live mereka.

Perlu ada reklarifikasi posisi kepada setiap object pasar. Sebab, segmen bawah ini play on words saat ini tidak mau diperlakukan asal-asalan sebagai bagian dari massa yang tidak dikenal. Pun kepada object pasar bawah, yakni bisnis kelas mikro.

Tidak mau. Mereka mulai sadar akan pelayanan yang lebih live, customize. Di antara persyaratan itu adalah bahwa bisnis tersebut sudah berjalan 3-5 tahun dengan perolehan laba tertentu.
Dalam konteks bisnis franchise, ada 3 (tiga) titik penting yang harus bank cermati:
1. Jenis bisnis
Sebagaimana disepakati oleh kalangan pebisnis franchise, suatu usaha layak diwaralabakan setelah mengantongi beberapa persyaratan. Lamanya waktu yang dipersyaratkan hendak menunjukkan bahwa hanya bisnis yang telah melampaui waktu tersebut pantas dimasukkan sebagai bisnis yang berhasil.

Karena sudah teruji keberhasilannya, layaknya jika sistem yang sudah dibangun dijual kepada pihak lain untuk diduplikasi. Bank harus tegas untuk hanya membiayai bisnis yang bebas musim dan jangka panjang.
Mengingat syarat ini, bank harus berhati-hati pada jenis-jenis usaha yang bersifat musiman, yang mengandalkan tend semata. Benar, sebab kepentingan bank bukan hanya menyalurkan kredit sesaat, namun turut membangun bisnis nasabah. Jika kelak berhasil, nasabah pasti akan datang kembali ke bank untuk mendapatkan sokongan yang lain. Kepada franchisee, franchisor akan membagikan sistem yang ia punya untuk keberhasilan usaha.
2. Franchisor
Merujuk pada paparan di depan, bisnis franchise adalah bisnis keterbukaan.

Pembagian informasi ini tidak hanya berlangsung di awal, melainkan di sepanjang kontrak bisnis.
Maka, bank harus paham betul kesesuaian karakter bisnis yang diwaralabakan dengan karakter franchisornya. Karenanya, franchisor yang baik adalah yang mau membagikan ilmunya secara periodik lewat penyelenggaraan pelatihan. Bank harus bisa memastikan bahwa franchisornya hendak membangun bisnis bersama franchiseenya dalam jangka panjang.
3. Franchisee
Demikian halnya dengan franchisee. Franchise adalah bisnis yang sudah jadi, yang sudah tersistem.

Semua SOP sudah ditentukan oleh pusat. Siapkah franchisee menjalankan sistem yang sudah ada? Bersedia diaturkah dia? Sebab, untuk beberapa jenis bisnis, franchisee sama sekali tidak memiliki ruang untuk berkreasi dan berinovasi. Nah, bisnis itu tentu tidak cocok bagi yang ingin berimprovisasi dalam menjalankan bisnisnya.
Bagi bank, yang lebih penting kemudian adalah memastikan bahwa franchisee mau menjalankan bisnis untuk jangka panjang: pertumbuhan dan kematangan. Dan tugas bank pula untuk menemukan dan mengangkat ke permukaan potensi tersebut.

Bank juga perlu menelusuri potensi tersembunyi franchisee. Ingat, banyak bisnis besar bermula dari ketidakjelasan, ketidaklengkapan, dan keminiman. Jangan menghambat franchisee hanya gara-gara persyaratan yang miskin mereka punya.

Kesediaan untuk mengulurkan diri lebih panjang seperti inilah yang kelak akan mengikat pengusaha tersebut sebagai nasabah deep-rooted. Sebaliknya, bantu mereka untuk melengkapi.
Dari paparan di depan, titik kritis yang mesti diantisipasi kalangan perbankan adalah aspek-aspek fasilitasi di luar summarize of inquiry perbankan. Ini yang tidak gampang. Maka, bank play on words diajak untuk membuka jejaring bisnisnya kepada nasabah: dengan ahli pemasaran, dengan ahli hukum bisnis, dengan akademisi, dll. Bank dituntut menjadi konsultan yang menghubungkan pengusaha franchise dengan pihak-pihak dan hal-hal yang berkaitan dengan kemajuan bisnisnya. Pelayanan yang interdisipliner ini nilai tambah bank untuk memenangi hati nasabah.

Tentu, aspek ini masih sangat sederhana.

Leave a Reply
Click here to invalidate rejoin. Banyak aspek lain yang perlu juga dicermati, mengingat kompleksitas aspek bisnis sebagaimana dipaparkan di depan.

Create a free edublog to get your own comment avatar (and more!)